Tampilkan postingan dengan label Fiqh Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqh Shalat. Tampilkan semua postingan
Awas, 10 Shalat Yang Tidak Akan Pernah Diterima Oleh Allah, Mungkin Kita Termasuk

Awas, 10 Shalat Yang Tidak Akan Pernah Diterima Oleh Allah, Mungkin Kita Termasuk

Awas, 10 Shalat Yang Tidak Akan Pernah Diterima Oleh Allah, Mungkin Kita Termasuk


FIQH AKTUAL | Jika kamu seorang muslim adalah sebuah kewajiban untuk mendirikan shalat sesuai tuntunan Rasulullah Salallahualaihiwassalam.

Jika terdengar suara Azan sudah seharusnya kita berbondong-bondong untuk segera ke masjid seperti pada zaman Sahabat dahulu dimana saat mereka mendengar azan ibarat mereka sedang mendengar suara panggilan langsung dari Allah karna takutnya mereka akan murka Allah dan selalu ingin menyembah nya.

Beda hal dengan apa yang terjadi saat ini, saat azan berkumandang hanya segelintir orang saja yang terpanggil, lain nya hening saja tidak peduli.

RASULULLAH saw bersabda: “Islam dibangun di atas lima hal; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allâh dan Nabi Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat….” (HR Bukhâri dan Muslim).

Imam Hasan al-Bashri rahimahullâh pernah mengatakan: “Wahai, anak manusia. Shalat adalah perkara yang dapat menghalangimu dari maksiat dan kemungkaran. Jika shalat tidak menghalangimu dari kemaksiatan dan kemungkaran, maka hakikatnya engkau belum shalat”.

Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga bersabda: “Barang siapa yang memelihara sholat, maka sholat itu sebagai cahaya baginya, petunjuk dan jalan selamat dan barangsiapa yang tidak memelihara sholat, maka sesungguhnya sholat itu tidak menjadi cahaya, dan tidak juga menjadi petunjuk dan jalan selamat baginya.” (Tabyinul Mahaarim).

Kemudian Rasulullah saw juga bersabda bahwa: “10 orang sholatnya tidak diterima oleh Allah swt, di antaranya:

1. Lelaki yang shalat sendirian tanpa membaca sesuatu.

2. Lelaki yang mengerjakan sholat tetapi tidak mengeluarkan zakat.

3. Lelaki yang menjadi imam, padahal orang yang menjadi makmum membencinya.

4. Lelaki yang melarikan diri.

5. Lelaki yang minum arak tanpa mau meninggalkannya (taubat).

6. Perempuan yang suaminya marah kepadanya.

7. Perempuan yang mengerjakan sholat tanpa memakai tudung.

8. Imam atau pemimpin yang sombong dan zalim menganiaya.

9. Orang-orang yang suka makan riba’.

10. Orang yang shalatnya tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan yang keji dan munkar.”

Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat menahannya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, maka sesungguhnya sholatnya itu hanya menambahkan kemurkaan Allah swt dan jauh dari Allah.”

Hassan r. a berkata : “Kalau sholat kamu itu tidak dapat menahan kamu dari melakukan perbuatan mungkar dan keji, maka sesungguhnya kamu dianggap orang yang tidak mengerjakan sholat. Dan pada hari kiamat nanti sholatmu itu akan dilemparkan semula ke arah mukamu seperti satu bungkusan kain tebal yang buruk.”
Read More
Hukum Khusyu' Dalam Shalat

Hukum Khusyu' Dalam Shalat

Hukum Khusyu' Dalam Shalat

Assalamu'alaikum. 
Maaf pak, mau tanya. Kita seringkali mendengar kata khusyu' dari para mubaligh bahwa itu merupakan perkara yang sangat penting dalam shalat.
Apakah khusyu' itu merupakan rukun dalam shalat? Apakah orang yang shalat dalam keadaan tidak khusyu' shalatnya sah? 

(Dari Dul Kenyot).

Jawaban: 


Wa 'alaikumus salam warahmatullah. 
Memang benar pak, bahwa khusyu' adalah hal yang sangat penting dalam shalat. Shalat tanpa khusyu' ibarat jasad tanpa nyawa. Jadi, khusyu' adalah nyawanya shalat. Dan karena pentingnya khusyu' ini Allah memotivasi hambanya melalui Al Qur'an: 

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya". (QS. Al Mukminun : 1-2). 

Imam Ibnu Katsir mengumpulkan pengertian khusyu' dalam ayat tersebut dari beberapa sahabat Nabi dan para ulama dalam tafsirnya: 
Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu Abbas: Khusyu' adalah merasa takut dan diam di hadapan Allah. Demikian diriwayatkan dari Mujahid, Hasan, Qatadah dan Az Zuhriy. Menurut Ali bin Abi Thalib: Khusyu' adalah ketenangan hati. Demikian pula menurut Ibrahim an Nakha'i. Menurut Hasan al Bashriy: Ketenangan hati orang yang beriman ada di dalam hati mereka, mereka menundukkan pandangan dan merendahkan diri. Menurut Muhammad bin Sirin: Dulu para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendongakkan pandangan ke langit ketika shalat, maka ketika diturunkan ayat tersebut mereka menundukkan pandangan ke tempat sujud mereka. 

Untuk mencapai kekhusyu'an dalam shalat bukanlah perkara mudah, butuh perjuangan dan latihan yang keras serta istiqamah (konsisten) dan berkelanjutan. Karna itulah khusyu' mempunyai nilai dan kedudukan yang tinggi dalam ibadah. Hal ini telah disampaikan pula oleh Allah dalam firmanNya: 

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

"Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat, sesungguhnya shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (QS. Al Baqarah : 45). 

Imam Al Qurthubiy menjelaskan makna khusyu' pada ayat tersebut dalam tafsirnya: Khusyu' adalah suatu keadaan di dalam hati yang nampak pada anggota badan, yaitu tenang dan tawadhu' (merendahkan diri). Qatadah berkata: Khusyu' tempatnya di hati, yaitu merasa takut kepada Allah dan menundukkan padangan ketika shalat.  

Hukum Khusyu' Menurut Para Ahli Fiqih 

Menurut sebagian ahli fiqih dari kalangan ulama madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah bahwa khusyu' itu adalah perkara  yang sangat penting dalam shalat. Tetapi mereka berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka mengatakan bahwa khusyu' adalah bagian dari fardhunya shalat, tapi shalat tidak batal sebab meninggalkan kekhusyu'an karena hal itu dimaafkan. Sebagian berkata bahwa khusyu' adalah fardhunya shalat yang membatalkan jika ditinggalkan. Dan sebagian lagi berkata bahwa khusyu' merupakan syarat sahnya shalat, tetapi hanya pada bagian tertentu pada shalat meskipun tidak khusyu' pada bagian yang lain. Sebagian pengikut yang berpegang pada qaul ini membatasi bagian yang wajib khusyu' dalam shalat adalah pada saat takbiratul ihram. 

Nah jika difahami dari uraian diatas maka mengenai hukum khusyu' itu sendiri ada yang menghukumi wajib dan ada yang menghukumi tidak wajib. Adapun madzhab fiqih mayoritas yang dianut di negara Indonesia adalah madzhab imam Syafi'i yang menetapkan bahwa khusyu' bukanlah rukun dalam tapi kesunahan dalam shalat. Jadi, melakukan perbuatan yang dapat menghilangkan kekhusyu'an shalat hukumnya makruh dan shalat tetap dihukumi sah, meskipun berkurang dalam segi fadhilah. Sedangkan salah satu ulama tasawuf dalam madzhab ini yaitu imam Al Ghazali menyatakan bahwa khusyu' dalam shalat hukumnya wajib, namun kewajiban ini bukan bersifat mutlak tapi disesuaikan pada kemampuan pelakunya, terlebih bagi yang telah mencapai tingkat kemapanan batin dalam ibadah. 

Terakhir, walaupun khusyu' bukanlah rukun shalat dan bukan kewajiban bagi yang belum mampu, namun adalah suatu keniscayaan bahwa khusyu' dapat tercapai dengan melatih diri dan menjaga ketenangan hati. Dan perlu difahami bersama bahwa wajib dan sunah adalah tuntutan agar dilaksanakan dan tentunya lebih baik daripada ditinggalkan. Wallahu a'lam. 

(Dijawab oleh Al Murtadho). 

Referensi: 

Tafsir Ibnu Katsir juz 5 hal. 461 


قال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: {خاشعون}: خائفون ساكنون. وكذا روي عن مجاهد، والحسن، وقتادة، والزهري. وعن علي بن أبي طالب، رضي الله عنه: الخشوع: خشوع القلب. وكذا قال إبراهيم النخعي. وقال الحسن البصري: كان خشوعهم في قلوبهم، فغضوا بذلك أبصارهم، وخفضوا الجناح. وقال محمد بن سيرين: كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يرفعون أبصارهم إلى السماء في الصلاة، فلما نزلت هذه الآية: {قد أفلح المؤمنون. الذين هم في صلاتهم خاشعون} خفضوا أبصارهم إلى موضع سجودهم 

Tafsir al Qurthubiy juz 1 hal. 374 

قوله تعالى: (على الخاشعين) الخاشعون جمع خاشع وهو المتواضع. والخشوع: هيئة في النفس يظهر منها في الجوارح سكون وتواضع. وقال قتادة: الخشوع في القلب وهو الخوف وغض البصر في الصلاة

Al Mausu'ah al Fiqhiyyah juz 19 hal. 118 

وذهب بعض فقهاء كل من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة إلى أن الخشوع لازم من لوازم الصلاة، إلا أنهم اختلفوا فيه. فقال بعضهم: إنه فرض من فرائض الصلاة ولكن لا تبطل الصلاة بتركه لأنه معفو عنه. وقال آخرون: إنه فرض تبطل الصلاة بتركه كسائر الفروض. وقال بعض آخر منهم: إن الخشوع شرط لصحة الصلاة لكنه في جزء منها فيشترط في هذا القول حصول الخشوع في جزء من الصلاة وإن انتفى في الباقي، وبعض أصحاب هذا القول حدد الجزء الذي يجب أن يقع فيه الخشوع من الصلاة، فقال: ينبغي أن يكون عند تكبيرة الإحرام

Al Majmu' Syarh al Muhadzab juz 4 hal. 102 

يستحب الخشوع في الصلاة والخضوع وتدبر قراءتها وأذكارها وما يتعلق بها والإعراض عن الفكر فيما لا يتعلق بها، فإن فكر في غيرها وأكثر من الفكر لم تبطل صلاته لكن يكره، سواء كان فكره في مباح أو حرام كشرب الخمر، وقد قدمنا حكاية وجه ضعيف في فصل الفعل من هذا الباب أن الفكر في حديث النفس إذا كثر بطلت الصلاة وهو شاذ مردود، وقد نقل الاجماع علي أنها لا تبطل، وأما الكراهة فمتفق عليها

Al Hawiy al Kabir juz 2 hal. 321 

وإتيان ما يسقط الخشوع مكروه

Ihya Ulumuddin juz 1 hal. 159 

بيان اشتراط الخشوع وحضور القلب. اعلم أن أدلة ذلك كثيرة فمن ذلك قوله تعالى أقم الصلاة لذكري. وظاهر الأمر الوجوب والغفلة تضاد الذكر فمن غفل في جميع صلاته كيف يكون مقيما للصلاة لذكره وقوله تعالى ولا تكن من الغافلين نهي وظاهره التحريم. وقوله عز وجل حتى تعلموا ما تقولون تعليل لنهي السكران وهو مطرد في الغافل المستغرق الهم بالوسواس وأفكار الدنيا وقوله صلى الله عليه وسلم إنما الصلاة تمسكن وتواضع حصر بالألف واللام وكلمة إنما للتحقيق والتوكيد وقد فهم الفقهاء من قوله صلى الله عليه وسلم إنما الشفعة فيما لم يقصر الحصر والإثبات والنفي وقوله صلى الله عليه وسلم من لم تنهه صلاته عن الفحشاء والمنكر لم يزدد من الله إلا بعدا وصلاة الغافل لا تمنع من الفحشاء والمنكر وقال صلى الله عليه وسلم كم من قائم حظه من صلاته التعب والنصب. وما أراد به إلا الغافل وقال صلى الله عليه وسلم ليس للعبد من صلاته إلا ما عقل منها. والتحقيق فيه أن المصلي مناج ربه عز وجل كما ورد به الخبر والكلام مع الغفلة ليس بمناجاة ألبتة

Ihya Ulumuddin juz 1 hal. 161 

والحق الرجوع الى أدلة الشرع والاخبار والايات ظاهرة فى هذا الشرط إلا ان مقام الفتوى فى التكليف الظاهر يتقيد بقدر قصور الخلق فلا يمكن أن يشترط على الناس إحضار القلب فى جميع الصلاة فإن ذلك يعجز عنه كل البشر الا الاقلين واذا لم يكن اشتراط الاستيعاب للضرورة فلا مرد له الا ان يشترط ما ينطلق عليه الاسم ولو فى اللحظة الواحدة وأولى اللحظات به لحظة التكبير، فاقتصرنا على التكليف بذلك. ونحن مع ذلك نرجو أن لا يكون حال الغافل في جميع صلاته مثل حال التارك بالكلية

Read More
Inilah Keutamaan Shalat Sunnah yang Belum Banyak Orang Tahu

Inilah Keutamaan Shalat Sunnah yang Belum Banyak Orang Tahu

Inilah Keutamaan Shalat Sunnah yang Belum Banyak Orang Tahu

FIQH AKTUAL | Shalat sunnah adalah shalat yang dilakukan diluar shalat fardu. Dalam fiqih ada banyak macam shalat sunnah. Seperti shalat rawatib, shalat dhuha, shalat tahajud, shalat hajat, dan shalat istikharah. Shalat-shalat tersebut hukumnya sunnah, yang melakukan mendapat pahala dan tidak berdosa jika ditinggalkan.

Menyempatkan diri melakukan shalat sunnah merupakan suatu kebaikan (plus) bagi seorang Muslimah yang merindukan rahmat Allah. Misalnya, shalat tahajud yang dilakukan dimalam hari, saat banyak orang terlelap tidur.

Keutamaannya disebutkan oleh Rasulullah Saw., "Sesungguhnya di surga terdapat kamar yang luarnya dapat terlihat dari dalam nya dapat terlihat dari luarnya." Kemudian, ada seorang Badui berdiri lantas bertanya, "Kepada siapa (kamar tersebut) wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Bagi orang yang berkata baik, memberi makan (di antaranya lewat zakat, pen.), rajin berpuasa, shalat karena Allah dimalam hari di saat manusia sedang terlelap tidur" (HR Tirmidzi).
  
Melakukan shalat sunnah sebisa mungkin dijadikan rutinitas dalam kegiatan ibadah Muslimah. Kebiasaan ini jika telah istiqomah dilakukan, selain dapat memperbanyak bekal untuk akhirat juga akan mendapatkan rahmat dan cinta Allah.

Dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a., Allah berfirman, "Tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarnya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang ada dia melihat dengannya, kakinya yang dia melangkah dengannya. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya dan jika meminta pelindungan kepada-Ku, Aku akan memberi perlindungan kepadanya" (HR Bukhari).
Read More